"Pemerintah
dalam paket-paket ini ada asumsi yang tersirat, bahwa perekonomian seolah-olah
bisa diselamatkan oleh para kapitalis pemodal. Orientasinya ke sana," kata
Fuad dalam diskusi di Cikini, Jakarta,
Minggu (4/10/2015)
.
Fuad
mengatakan paket tersebut tidak direspons karena ekonomi sudah terlanjur lesu.
Hal itu dimulai dari kebijakan Jokowi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Mulailah
menghantam konsumsi mesin rakyat. Saya asumsikan tidak sadar, menikam sendiri,
dinaikkan harga BBM, pertumbuhan turun daya beli turun. Penjualan sepi,"
kata anggota Dewan Pembina Gerindra itu.
Kemudian,
kata Fuad, isi paket tersebut tidak begitu signifikan. Pemerintah, tuturnya,
terlihat ragu dan takut mengeluarkan paket kebijakan itu. Contohnya perizinan
industri dari 8 hari menjadi tiga jam.
"Itu enggak ada substansi apa-apa. Dari kalangan pengusaha tidak ada yang mengeluh delapan hari sudah bersyukur. Jadi kebijakan itu seperti membohongi diri sendiri," ujarnya.
Hal
lain yang disorot Fuad yakni pengurangan pajak yang diberikan selama 10 tahun
kini hingga 20 tahun. Padahal, kata Fuad, bukan di situ permasalahannya.
"Membuang
paket yang kurang menggigit. Ketiga, karena ragu, kemampuan atau komitmen
pemerintah dalam menjalankan kebijakannya sendiri. Paket itu tidak bisa
langsung diimplementasikan," ujarnya.







0 comments:
Posting Komentar