::

Kota San Francisco Masih Hutang 2,4juta ke Steve jobs

- Terlepas dari kebesaran namanya sebagai pendiriApple, Steve Jobs juga merupakan warga kota San Fracisco, AS. Ia punya kewajiban dan hak hukum yang sama dengan warga lain.

"Spotlight" terbaik OSCAR 2016

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Film Spotlight dinobatkan sebagai Best Picture dalam Academy Awards ke-88 yang dihelat di Dolby Theatre, Los Angeles, AS, Minggu (28/2/2016) malam atau Senin (29/2/2016) pagi waktu Indonesia.

TAkses Curang di blokir pelanggan Netflix ngambek

KOMPAS.com - Layanan on demand video streaming Netflix mulai memblokir akses melalui Virtual Private Network (VPN). Kebijakan tersebut membuat geram sebagian pelanggan yang tidak bisa lagi mengakses semua konten Netflix tanpa batas negara, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Selasa (1/3/2016) dariMashable.

This is default featured slide 4 titl

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan

Senin, April 25

Metode Hacker Pembobol Rp 1 Triliun Masih Misteri


Selasa, 26/04/2016 13:44 WIB
Metode Hacker Pembobol Rp 1 Triliun Masih MisteriFoto: GettyImages
Jakarta - Uang senilai USD 81 juta atau sekitar Rp 1 triliun ditransfer dari rekening bank sentral Bangladesh. Namun bukan bank itu yang melakukannya melainkan para hacker. Bagaimana mereka melakukannya, masih jadi misteri.

Para hacker yang belum tertangkap itu bahkan bisa saja mencuri uang selangit dari bank sentral Bangladesh, senilai USD 951 juta. Tapi kesalahan kecil berupa typo dari yang seharusnya foundation jadi fandation saat menulis rekening penerima, membuat transaksi dibatalkan. Namun mereka sudah berhasil menggondol uang USD 81 juta itu.

Pakar keamanan menilai, para hacker memiliki pengetahuan mendalam pada bank sentral Bangladesh. Mereka mungkin memata-matai para karyawan bank. Intinya, mereka berhasil membuat permintaan transfer yang seolah-olah resmi dari bank sentral Bangladesh, ke Federal Reserve Bank of New York, tempat di mana bank sentral Bangladesh menyimpan uangnya.

Sebagian permintaan transfer itu disetujui oleh Federal Reserve sehingga mereka disalahkan oleh bank sentral Bangladesh karena tak melakukan pencegahan. Federal Reserve membela diri bahwa permintaan transfer benar benar terlihat asli dari bank sentral Bangladesh, yang dilakukan dan diotentifikasi melalui plaform finansial Swift.

Swift ini adalah hasil kerja sama bank untuk pemrosesan permintaan transfer. Ada kecurigaan kalau hacker ini telah membobol sistem Swift sehingga bisa melakukan aksinya tanpa ketahuan. Penyelidikan terbaru dari perusahaan keamanan Inggris BAE Systems menguatkan dugaan tersebut meski belum diketahui bagaimana si hacker bisa melakukannya.

Untuk memuluskan aksi ini, sang penjahat cyber terlebih dahulu harus mengumpulkan informasi soal prosedur bank sentral Bangladesh melakukan transfer. Besar kemungkinan mereka juga memata matai karyawan bank bersangkutan untuk memahami operasional bank itu.

Dikutip detikINET dari Reuters, metode lain yang mungkin digunakan adalah sociel engineering, di mana pelaku memanipulasi karyawan yang memproses transfer. Mungkin mereka berhasil membobol akun email karyawan itu dan melakukan transfer.

Pencurian sebesar USD 81 juta oleh hacker ini termasuk yang terbesar dalam sejarah perbankan. Sekaligus membuktikan hacker makin gencar menyerang bank sehingga mereka harus terus memperketat keamanan.(fyk/ash) 

Privasi di Internet: Tak Ada Istilah Makan Siang Gratis


Privasi di Internet: Tak Ada Istilah Makan Siang GratisOndrej Vicek (Foto: Dok. Avast)
Jakarta - Tak banyak privasi yang bisa Anda dapatkan di internet sekarang. Ke manapun Anda berselancar menjelajahi situs web, koneksi ke jejaring sosial dan akses suatu aplikasi semua orang bisa mengetahui alamat IP dan lokasi di mana Anda tengah mengakses internet.

Informasi yang mereka dapat, bisa dihubungkan dengan profil demografi Anda, seperti usia, gender dan situs-situs web langganan. Pengiklan di situs jejaring sosial bahkan dapat mencari tahu pandangan politik dan agama Anda, dan internet pun mampu mengetahui buku yang telah Anda baca, merek kosmetik apa yang biasa Anda gunakan, apakah Anda tengah hamil, dan status pernikahan Anda.

Terakhir, perusahaan mesin pencari dan provider layanan internet mengetahui semua hal tentang Anda. Kini, dengan adanya Internet of Things, perangkat yang terhubung dengan internet dapat mengumpulkan informasi yang lebih mendalam mengenai kehidupan kita.

Misalnya, mobil kita akan mengingat ke mana saja kita pergi, berapa kecepatan kita mengemudi dan lagu apa saja yang kita putar selama dalam perjalanan. Sementara itu, jam tangan pintar (smart watch) kita dapat lebih mengetahui kondisi kesehatan kita daripada dokter pribadi. Privasi hanya menjadi sesuatu di masa lampau.

Kompromi Antara Kenyamanan dan Privasi

Dalam penggunaan internet sehari-hari, sadar atau tidak, kita telah melakukan kompromi antara kenyamanan dan privasi. Salah satu contoh adalah ketika kita mengakses Gmail, layanan email yang sangat populer dengan jumlah pengguna yang hampir mencapai satu miliar di seluruh dunia.

Sebagian besar pengguna Gmail tanpa disadari telah menerima iklan yang berhubungan dengan subyek email mereka. Hal ini terjadi karena setiap subyek email yang kita terima atau kirim akan dikirim ke sebuah mesin pengiklan yang kemudian akan menentukan konten yang relevan untuk dipasang sebagai iklan di dalam akun Gmail kita.

Misalnya, ketika mengirim email dengan subyek yang mengandung kata 'liburan', kita mungkin akan melihat iklan yang menawarkan tiket penerbangan.

Kemudian, ketika sedang mencari-cari barang di internet, Anda mungkin akan menyadari bahwa iklan yang ditampilkan selalu sesuai dengan kata-kata yang kita ketik ke dalam mesin pencari. Iklan jenis ini dikenal dengan istilah targeted advertisement, yang bisa sangat bermanfaat, namun juga dapat menjadi masalah atau bahkan membuat pengguna merasa tidak nyaman.

Misalnya bila satu komputer digunakan secara bersama-sama, mungkin pihak orang tua tidak ingin anak-anak mereka mengetahui riwayat pencarian mereka, dengan targeted advertisement hal ini sulit dihindari karena iklan disesuaikan dengan pencarian yang kita lakukan.

Melangkah lebih lanjut, kita selayaknya mulai menimbang perangkat pintar yang ingin kita gunakan. Salah satu bentuk pelanggaran terhadap privasi yang bisa kita alami adalah terpasangnya pelacak geografis pada perangkat ponsel pintar hingga mobil.

Perangkat geotracking saat ini sudah menjadi fitur yang umum ditemui pada mobil dan hal ini mempermudah kita melacak lokasi pasangan atau anak, memantau kecepatan mereka dalam berkendara dan cara mereka mengemudi.

Sisi positifnya, fitur ini dapat mendorong pasangan atau anak kita mengemudi secara aman. Sisi negatifnya, pasangan atau anak kita merasa tidak nyaman bila terus dipantau. Terlebih, data yang terekam bisa saja dijual ke perusahaan asuransi, yang bisa menggunakan datanya sebagai argumen untuk menolak membayar klaim asuransi kecelakaan, misalnya, karena pengguna berkendara dengan kecepatan yang terlalu tinggi.

Sebagian besar konsumen mungkin sudah menyadari risiko-risiko yang dibawa oleh sebuah perangkat pintar. Namun demikian, ketika data dalam jumlah besar diberikan kepada beberapa perusahaan, pengguna sebenarnya sudah mengorbankan privasi mereka.

Perangkat Lunak Gratisan dan Kebiasaan Langsung Menyatakan Setuju

Salah satu sebab pengguna begitu mudah dan rela melepas privasi mereka adalah sebagian besar perangkat lunak tersedia untuk diunduh secara cuma-cuma. Pada tahun 90-an, perangkat lunak masih dijual di toko dan dijual relatif mahal kepada masyarakat umum.

Kini, sebagian besar perangkat lunak dapat diunduh secara gratis. Konsekuensinya privasi dan keamanan konsumen kian terkorbankan oleh kebiasaan konsumen itu sendiri yang enggan membaca isi perjanjian yang disodorkan oleh perusahaan penyedia perangkat lunak tersebut.

Pertanyaan sebenarnya adalah: Apa yang diterima pengguna sebagai ganti dari privasi yang mereka korbankan? Dan apakah pengguna bersedia mengorbankan privasi mereka demi mendapatkan kemudahan yang ditawarkan perangkat lunak atau aplikasi gratisan tersebut?

Beberapa perusahaan terpercaya telah menawarkan perangkat lunak atau aplikasi yang sangat bermanfaat, seperti layanan email gratis, mesin pencari, pesan teks, jejaring sosial, pemantauan kesehatan, atau keselamatan anak, sehingga targeted advertising yang dilakukan perusahan jejaring sosial, mesin pencari dan layanan internet lainnya tidak pernah dipandang sebagai suatu risiko.

Semakin banyak sebuah aplikasi atau layanan internet mengenal Anda, seperti lokasi, hobi, dan kontak Anda, semakin akurat iklan yang mereka tampilkan di hadapan Anda. Beberapa orang lebih menyukai targeted advertisement karena lebih relevan dengan mereka, sementara beberapa lainnya melihatnya sebagai invasi atas suatu privasi.

Satu-satunya cara untuk terhindar sepenuhnya dari kegiatan mata-mata di era sekarang adalah dengan tidak menggunakan internet dan atau perangkat pintar sama sekali, dan atau layanan gratis yang dapat mengakses data sensitif terhadap targeted advertisement.

Ada beberapa perangkat yang tersedia di pasar, seperti add-on browser yang menyediakan informasi mengenai interaksi dengan situs sosial media dan jaringan periklanan yang membagikan data dan analisa untuk memperbaiki kinerja sebuah situs web.

Teknologi yang pintar dapat mengidentifikasi informasi tersebut sebagai cookies atau kode pemrograman yang terpasang di dalam situs web. Adapula aplikasi bagi perangkat mobile yang membantu pengguna mengetahui data apa saja yang bisa diakses aplikasi dan jaringan periklanan mana yang mereka layani.

Diperlukan Kolaborasi antara Industri dan Politik

Meski beragam solusi telah tersedia, pengaturan antara privasi dan kenyamanan tak selayaknya dibebankan kepada konsumen. Terinformasi secara 100% mengenai apa yang dilakukan pada data mereka bukan suatu hal yang mustahil bagi pengguna karena sebagian besar perusahaan tidak hanya mengkomunikasikan informasi seperti ini kepada basis konsumen mereka.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan sebaiknya meningkatkan transparansi, menyodorkan kontrak persetujuan yang lebih bersahabat untuk dibaca dan mendidik konsumen. Para pembuat undang-undang juga harus menentukan seberapa jauh perusahaan boleh mengumpulkan dan mendistribusikan data pengguna. 

Lapor Kekerasan Anak ke KPAI Bisa Lewat Aplikasi

Senin, April 18

Pamor Facebook Meredup di Mata Remaja




Jakarta - Facebook memang jejaring sosial terbesar sejagat, namun daya tariknya pada kaum muda agaknya sudah tak seperti dulu. Kedatangan jejaring sosial baru yang lebih keren dan kekinian tampaknya membuat banyak remaja berpaling.

Survei di Amerika Serikat oleh biro riset Piper Jaffray ini bisa menjadi gambaran. Pada 6.350 remaja dengan usia rata rata 16 tahun, ditanyakan soal apakah media sosial favorit mereka. Ternyata di tempat pertama adalah Snapchat dengan persentase 28%.

Dikutip detikINET dari Telegraph, Snapchat sukses menyalip Instagram yang duduk di posisi kedua dengan persentase 27%. Di survei sebelumnya, Instagram ada di posisi pertama dengan 33%.

"Seperti yang kami sebutkan dulu, kami memperkirakan Snapchat untuk menyalip Twitter, namun tidak mengira akan melewati Instagram. Kami melihat Instagram dan Snapchat ada di kelas mereka sendiri dan baru diikuti Faceboook," kata Piper Jaffray

Namun meski Facebook sudah dianggap tidak penting, yang memakainya masih sangat banyak alias dominan. Survei tahun lalu oleh Forrester menyatakan 78% remaja menggunakan Facebook, melebihi jejaring sosial lain kecuali YouTube.

Lebih dari 30% bahkan menyatakan sangat sering mengakses Facebook. Sedangkan Instagram, Twitter dan Snapchat digunakan oleh sekitar 50% remaja.

Survei Piper Jaffray juga mengungkap makin populernya layanan streaming video seperti Netflix dan YouTube ketimbang siaran televisi tradisional di kalangan remaja. Di tahun ini, memang diprediksi akan lebih banyak orang menonton video online ketimbang televisi.

(fyk/ash)

Minggu, April 17

60 Detik yang Super Sibuk di Internet


Jakarta - Pernah membayangkan apa yang terjadi di internet dalam satu menit? Banyak! Hitungan 60 detik adalah waktu di mana ada banyak peristiwa terjadi, termasuk di internet. 

Berikut adalah gambaran betapa berharganya 60 bagi perusahaan seperti Facebook, Twitter, Amazon, YouTube, Tinder, Snpachat, YouTube dan masih banyak lagi, seperti dikutip dari Times of India, Senin (18/4/2016). 

Facebook: Dalam 60 detik, tercatat ada 701.388 orang yang login ke raksasa jejaring sosial ini. 

WhatsApp: Hampir 20,8 juta pesan wara-wiri di instant messenger ini setiap menitnya. 

Google: Satu menit bagi raksasa mesin pencarian Google berarti meladeni 2,4 juta pencarian yang dilakukan para penggunanya. 

Tinder: Tercatat ada sekitar 972.222 swipe dilakukan di jejaring sosial kencan ini setiap menitnya. 

YouTube: Menonton tayangan video YouTube memang menarik. Tak heran, layanan berbagi video ini punya 2,78 juta view video per menit. 

Email: Sebagai salah satu alat komunikasi, email digunakan banyak orang di seluruh dunia. Setidaknya ada 150 juta email terkirim dalam satu menit. 

Uber: Ada banyak orang di luar sana yang bergantung pada aplikasi transportasi. Contohnya dapat dilihat dari trafik Uber yang melayani sekitar 1.388 perjalan per 60 detik. 

Snapchat. Angka ini memperlihatkan betapa Snapchat sedang naik daun. Ada 527.760 foto yang dibagi di Snapchat setiap menit. 

Apple App Store: Toko aplikasi milik Apple tercatat meladeni download setidaknya 51.000 aplikasi per menit.

Amazon: Dalam 60 detik, raksasa e-commerce ini meraup penjualan senilai USD 203.596 di websitenya. 

LinkedIn: Bagi jejaring sosial profesional LinkedIn, setiap menit berarti penambahan 120 lebih akun baru. 

Twitter: Tak diragukan lagi jika Twitter kerap ramai oleh kicauan beragam topik dari berbagai negara. Situs mikroblogging ini mencatat ada 347.222 tweet per menit. 

Instagram: Banyak orang berlomba memamerkan foto di Instagram. Jejaring sosial berbagi foto ini melayani 34.194 postingan baru per 60 detik. 

Vine: Video pendek juga menjadi daya pikat baru di kalangan netizen dalam beberapa tahun belakangan. Vine menayangkan 1,04 juta loop di layanannya. 

Spotify: Mendengarkan layanan musik streaming jadi keasyikan tersendiri. Di Spotify, satu menit berarti setara dengan 38.052 jam musik diputar.

(rns/ash) 

Kamis, April 14

Warkop di Tanah Rencong Kini Tak Sekadar Tempat Nongkrong


Banda Aceh - Belum sah rasanya berkunjung ke Banda Aceh jika belum menikmati kopi. Warung kopi sangat mudah dijumpai di setiap sudut ibu kota provinsi Aceh. Warga tanoh rencong biasanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk nongkrong di sana.

Dulu warung kopi di Banda Aceh digunakan warga hanya untuk nongkrong sambil menikmati minuman favorit seperti sanger. Kini mulai berubah. Pengunjung warkop sekarang menghabiskan waktu untuk mengakses internet gratis dengan menggunakan Wi-Fi yang disediakan pemilik warung.

Setiap hari warkop di Banda Aceh tidak pernah sepi. Sejak pagi sudah ada pelanggan yang datang. Usai memesan minum atau makanan, mereka rata-rata langsung membuka layar laptop. Di sana, fasilitas Wi-Fi mulai yang gratis hingga berbayar tersedia.

"Di warung kopi saya menyediakan dua Wi-Fi. Satu Wi-Fi warung yang bisa diakses gratis satu lagi Wi-Fi bayar yaitu Wi-Fi ID milik Telkom," kata Afifuddin, pengelola A Cafee kepada detikcom, Selasa (12/4/2016).

Dalam beberapa bulan terakhir, pemilik warung kopi di Banda Aceh rata-rata sudah memasang fasilitas Wi-Fi berbayar. Pelanggan yang ingin berselancar di internet, harus membeli voucher terlebih dulu. Setelah itu, mereka dapat berinternet ria tanpa ada batasan.

Meski demikian, pemilik warung juga tetap menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis. Untuk kecepatannya, tergantung jumlah pemakai. Pengunjung yang nongkrong di warkop milik Afif rata-rata menghabiskan waktu antara tiga hingga empat jam dalam sehari.

"Biasanya datang pagi duduk hingga empat jam, habis itu pulang dan sore balik lagi. Ada juga pelanggan yang sampai titip laptop di sini karena dia pulang sebentar untuk mandi," jelasnya.

Beberapa warung kopi di Banda Aceh buka 24 jam. Jika sudah larut malam, biasanya tinggal anak muda atau mahasiswa. Mereka duduk di sana untuk mengerjakan tugas, sekadar buka-buka media sosial, mencari informasi ataupun download film.

Ariful Azmi, seorang mahasiswa di Banda Aceh, mengaku sengaja memilih warung kopi untuk mengakses jaringan Wi-Fi karena di sana juga tersedia minuman dan makanan. Selama ini, ia memilih duduk berjam-jam di warkop yang memiliki akses internet kencang.

"Saya pakai Wi-Fi untuk mencari-cari informasi dan memilih warkop karena lebih fleksibel. Di sana bisa pesan makan dan minum," kata Ariful.

Di Banda Aceh, Pemerintah Kota juga menyediakan fasilitas internet gratis di Taman Sari atau depan Balai Kota. Wi-Fi di sana juga tidak jauh beda dengan yang disediakan warkop. Menurut Ariful, dirinya tidak menggunakan Wi-Fi yang disediakan Pemko karena letaknya sangat jauh dari tempat tinggalnya.

"Dan tempatnya pun terlalu terbuka sehingga kelihatan kali cari internet gratis," ungkapnya sambil tertawa.

Pelanggan warkop lain, Alaidin, mengaku, dirinya kadang menghabiskan waktu selama 12 jam dalam sehari untuk nongkrong di warung kopi. Di sana, ia menggunakan fasilitas Wi-Fi untuk bekerja. Alaidin punya kriteria khusus untuk warkop yang disinggahinya. 

"Biasa duduk di warung kopi yang nyaman untuk akses internet seperti tidak berisik dan kerja kita tidak terganggu," kata Alaidin.

Banda Aceh merupakan kota yang dilintasi Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) Telkomsel. Ekspedisi dari Sabang dan Merauke ini menempuh jalur sepanjang 8.500 km. 2 Buah drone berukuran besar dengan bentangan sayap hingga 2,4 m akan diterbangkan secara bersamaan, menempuh Jalur Barat (Elang Barat) dan Jalur Timur (Elang Timur) Indonesia sepanjang 8.500 km.

Selama program, kedua drone akan merekam video yang kemudian diunggah melalui jaringan terbaik Telkomsel ke www.telkomsel.com/elangnusa, sehingga masyarakat dapat mengikuti perjalanan secara lengkap, baik melalui live streaming maupun recorded. 

Elang Barat memulai perjalanan dari Sabang dan akan menempuh beberapa kota di antaranya Medan, Palembang, Tasikmalaya, Yogyakarta dan Malang. Sementara Elang Timur, akan berangkat dari Merauke dan bergerak melewati Sorong, Ambon, Manado, Banjarmasin, Makassar, dan Labuan Bajo.

Di akhir perjalanan, pada pertengahan Mei, kedua drone akan bertemu dan mendarat di Denpasar. Selain menangkap berbagai keindahan dari alam Indonesia, dalam perjalanannya, Elang Barat dan Elang Timur juga akan menyapa masyarakat di kota-kota yang dilewati.

(try/try)
detik.com

Rabu, Maret 30

Begini Ketika Twitter Jadi 'Mak Comblang'


Liputan6.com, Jakarta Twitter genap berusia 10 tahun pada 21 Maret 2016. Selama satu dekade berdiri, Twitter menjadi salah satu media sosial favorit netizen, bahkan bagi beberapa orang telah mengubah kehidupan mereka.

Dari total ratusan juta pengguna, setidaknya ada beberapa di antaranya yang kehidupannya berubah berkat Twitter. Bermula dari sebuah tweet, hidup mereka berubah termasuk salah satunya menemukan pasangan hidup mereka di layanan tersebut.

Untuk merayakan ulang tahun ke-10 Twitter, dua orang netizen berbagi cerita bagaimana Twitter memberikan perubahan dalam hidup mereka. Berikut kisahnya seperti dilansirBBC, Senin (21/3/2016).
Greg Rewis menggunakan Twitter untuk melamar kekasihnya, Stephanie. Ia memutuskan menggunakan cara yang unik, setelah Stephanie "menolak" lamaran yang ia sampaikan di layanan pesan singkat.

Alkisah, Rewis mengatakan bahwa lamaran yang ia sampaikan di Twitter bermula dari candaan.

"Saat itu, saya sedang mengobrol dengan Steph dan memintanya untuk menikah. Dia kemudian mengatakan bahwa saya tidak memintanya dengan cara yang tepat. Jadi akhirnya saya menyampaikan lamaran di Twiter dan meminta ia me-refresh linimasanya. Dan sepertinya itu adalah momen yang tepat," ungkap Rewis.


"Kini kami hidup bersama dan membagi waktu kami antara Phoenix dan California. Tapi, saya banyak bepergian untuk bekerja. Kami masih menggunakan Twitter untuk berkomunikasi," tuturnya.
source=liputan6.com

10 Momen Kenangan Indonesia di Twitter

Liputan6.com, Jakarta - Twitter genap berusia 10 tahun pada 21 Maret 2016. Dalam rangka ulangtahun, Twitter pun berbagi 10 momen ikonik yang terjadi di Indonesia selama 10 tahun terakhir.

"Kami ingin menjadikannya (hari ulangtahun) sebagai perayaan bagi semua orang dari berbagai penjuru dunia yang telah membantu membuat Twitter seperti sekarang ini. Untuk menandai momen ini, kami ingin berbagi dengan Anda 10 momen ikonik di Twitter selama 10 tahun terakhir," tulis Twitter dalam keterangan resminya, Selasa (22/3/2016).
Twitter berbagi 10 momen ikonik itu dalam bentuk infografis dan dicantumkan dalam urutan kronologis. 10 momen itu dimulai dari Desember 2009 dengan tagar (#) KoinUntukPrita.

Masyarakat Indonesia bersatu di Twitter untuk membantu Prita Mulyasari (@pmulyasari) mengumpulkan Rp 240 juta guna membayar tagihan rumah sakit. Sebagai salah satu awal dari mulai banyaknya gerakan sosial yang dilakukan di media sosial, #KoinUntukPrita berhasil mengumpulkan lebih dari Rp 650 juta.

Momen ikonik terbaru adalah #GMT2016 pada Maret 2016. Momen langka Gerhana Matahari Total disambut meriah oleh masyarakat Indonesia. Netizen membanjiri Twitter dengan berbagai reaksi sykur dan takjub menyaksikan #GMT2016. Terdapat lebih dari 500 ribu tweet selama 24 jam terkait momen tersebut.

Seluruh momen ikonik tersebut terangkum dalam topik #KoinUntukPrita, @JalinMerapi, #DemiMetallica, #SelamatDatangLFC, Kemenangan @jokowi di Pemilu, #SaveKPK, #RIPOlgaSyahputra, #PollStory, #KamiTidakTakut dan #GMT2016.


Ini Alasan Layanan Live Streaming Begitu Populer

Liputan6.com, Jakarta - Generasi muda pengguna smartphone saat ini mungkin sudah tak asing lagi dengan layanan live streaming milik Twitter, Periscope. Keberadaan layanan itu disebut telah mengubah cara generasi milenial berinteraksi dengan orang lain.

Secara umum layanan live streaming menawarkan cara berbeda untuk berkomunikasi. Dengan ini pengguna dapat berinteraksi dengan banyak orang sekaligus dalam satu waktu. Keberhasilan Periscope mendulang banyak pengguna menarik minat banyak perusahaan lain untuk ikut menghadirkan layanan serupa, salah satunya adalah Facebook. 

Beberapa waktu lalu, media sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut juga telah memperkenalkan layanan Live yang menawarkan fitur live streaming serupa dengan Periscope. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan Google juga mulai merambah layanan ini dengan menghadirkan YouTube Connect.

Keberhasilan layanan live streaming tadi lantas menimbulkan pertanyaan, mengapa layanan video live streaming dapat begitu sukses? Untuk itu, tim Tekno Liputan6.com sedikit mengupas alasan di balik kesuksesan dan potensi layanan live streaming sebagai bagian dari pemasaran yang dikutip dari laman Forbes, Minggu (27/3/2016). 
1. Layanan ini bersifat Pribadi dan Intim

Tak dapat dipungkiri, layanan live streaming semakin membuat banyak orang berbagi kegiatannya secara langsung. Melalui layanan seperti Periscope, pengguna dapat membagi pengalamannya secara langsung melalui siaran yang dilakukannya di aplikasi tersebut. 

Penonton juga akan merasa lebih dekat dengan pengunggah video, sebab video dilakukan secara real-time. Oleh sebab itu, tak salah apabila beberapa merek menggandeng orang-orang populer yang sering melakukan live streaming sebagai bagian dari pemasaran.

2. Sifatnya mengikat

Setelah semakin banyak orang yang hadir di layanan live streaming, jelas makin banyak pula yang akan menontonnya. Salah satu alasannya adalah pengguna tak ingin kehilangan momen istimewa ketika seseorang melakukan live streaming, terlebih jika siaran itu dilakukan oleh seseorang orang populer.

Keberadaan layanan ini sangat berbeda jauh dengan kondisi konten video tradisional yang dapat ditonton kapan pun ketika diinginkan. Oleh sebab itu, konten yang hadir live streaming akan semakin banyak ditunggu oleh pengguna.


source=liputan6.com

Senin, Februari 29

Kota San Francisco Masih Hutang Rp 2,4 Juta ke Steve Jobs

KOMPAS.com - Terlepas dari kebesaran namanya sebagai pendiriApple, Steve Jobs juga merupakan warga kota San Fracisco, AS. Ia punya kewajiban dan hak hukum yang sama dengan warga lain. 

Setelah kurang lebih lima tahun meninggal, tepatnya pada 5 Oktober 2011 silam, Jobs ternyata belum menerima haknya lantaran kelebihan membayar tiket parkir di San Francisco. 

Kota di Pantai Barat AS tersebut masih berhutang 174 dollar AS atau setara Rp 2,3 jutaan kepada Jobs, sebagaimana dirangkumKompasTekno, Senin (29/2/2016) dari Business Insider. 

Selain Jobs, Pendiri PayPal Peter Thiel dan CEO Uber Travis Kalanick juga tertera dalam jejeran nama warga SF yang kelebihan bayar parkir. Secara berurutan, masing-masing kelebihan membayar 170 dollar AS (Rp 2,2 jutaan) dan 510 dollar AS (Rp 6,8 jutaan). 

Diketahui, sistem pembayaran tiket parkir di San Francisco menyerupaivoucher isi ulang. Pengemudi harus membeli voucher dengan nominal tertentu untuk dipotong sesuai waktu parkir di tempat-tempat khusus. 

Masalahnya, ada saja warga yang membayar kewajiban lebih dari haknya. Pemerintah kota San Francisco pun meneliti file transaksi selama periode 17 tahun dari 1995 hingga 2012.

Hasilnya, ditemukan ada 6,1 juta dollar AS atau sekitar Rp 81 miliar duit warga yang mengendap di rekening parkir SF. Pemerintah hendak mengembalikan kelebihan-kelebihan pembayaran tersebut. 

Warga diberi waktu sampai 3 Maret 2016 mendatang untuk mengklaim pembayaran balik (refund). Jika tidak, duit kelebihan itu akan masuk ke kas pemerintah. 

Untuk kasus Jobs, ke mana duit 174 dollar AS itu harus bermuara? Belum ada penjelasan lebih lanjut soal ini.

"Akses Curang" Diblokir, Pelanggan Netflix Ngambek

KOMPAS.com - Layanan on demand video streaming Netflix mulai memblokir akses melalui Virtual Private Network (VPN).
Kebijakan tersebut membuat geram sebagian pelanggan yang tidak bisa lagi mengakses semua konten Netflix tanpa batas negara, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Selasa (1/3/2016) dariMashable.
Netflix merupakan layanan berbasis kluster (region-locked). Beda negara, beda pula sajian film dan serial TV yang tersedia. Begitu juga dengan ketersediaan subtitle.

Terkadang pelanggan yang tinggal di negara A tak bisa mengakses konten kesukaannya. Sebab, konten tersebut cuma bisa diakses di negara B. 
Untuk mengakses konten dari perpustakaan Netflix di semua negara, pelanggan harus mengelabui Netflix dengan menggunakan VPN. 

Akses privat itu memungkinkan pelanggan memodifikasi alamat IP komputernya. Walau berdomisili di negara A, seseorang bisa dibuat seakan-akan berdomisili di negara B.
Tampaknya Netflix tak suka dengan "aksi curang" tersebut. Bulan lalu, melalui situs resminya, Netflix memang sudah mengumumkan akan memblokir VPN. 

Kala itu, pro dan kontra sudah berlangsung. Kini, protes semakin menjadi-jadi menyusul mulai diberlakukannya pemblokiran. Para pelanggan yang "ngambek" menyuarakan kekesalannya lewat media sosial.