::

Kota San Francisco Masih Hutang 2,4juta ke Steve jobs

- Terlepas dari kebesaran namanya sebagai pendiriApple, Steve Jobs juga merupakan warga kota San Fracisco, AS. Ia punya kewajiban dan hak hukum yang sama dengan warga lain.

"Spotlight" terbaik OSCAR 2016

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Film Spotlight dinobatkan sebagai Best Picture dalam Academy Awards ke-88 yang dihelat di Dolby Theatre, Los Angeles, AS, Minggu (28/2/2016) malam atau Senin (29/2/2016) pagi waktu Indonesia.

TAkses Curang di blokir pelanggan Netflix ngambek

KOMPAS.com - Layanan on demand video streaming Netflix mulai memblokir akses melalui Virtual Private Network (VPN). Kebijakan tersebut membuat geram sebagian pelanggan yang tidak bisa lagi mengakses semua konten Netflix tanpa batas negara, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Selasa (1/3/2016) dariMashable.

This is default featured slide 4 titl

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Energi & Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energi & Tambang. Tampilkan semua postingan

Minggu, April 17

Apa Kabar Program Ketahanan Energi Pangan dan Air Indonesia?


Jakarta - Sudah hampir dua bulan ini ranah media konvensional dan sosial dipenuhi oleh berita-berita atau celotehan-celotehan yang semakin lama semakin melelahkan dan menyesatkan publik secara umum, misalnya semua hal yang terkait dengan napas dan langkah Ahok, lalu semua yang terkait dengan Panama Papers, dan persoalan pergantian anggota Kabinet atau reshuffle.

Perdebatan antara yang pendukung atau supporters  dengan pembenci atau haters Ahok berjalan selama 24 jam dan menyiksa memori gadget hingga tengah malam dan rupanya terus berlanjut hingga subuh dan matahari terbit. Melalui medsos banyak muncul analis/pengamat baru, baik yang asbun (asal bunyi) atau muncul dengan data-data yang entah dari mana asalnya.

Euforia keterbukaan informasi ternyata cukup membuat keinginan publik tentang persoalan hukum tata negara sampai politik dan pribadi pengambil keputusan tak terbendung. Ranah publik, ranah pribadi dan ranah hukum sudah bercampur. Persoalannya apakah keterbukaan telanjang bulat ini membuat kepentingan publik menjadi lebih baik dan terakomodasi oleh negara dan keberadaan negara menjadi lebh kuat di publik? Belum tentu.

Kehirukpikukan  di atas, melupakan beberapa isu penting yang terkait langsung dengan keberlangsungan bangsa ini ke depan, seperti program ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan air yang sudah sangat kritis di Indonesia. Bisa dibayangkan jika 15 tahun ke depan publik kesulitan memperoleh ketiga komoditi tersebut, apa yang terjadi? 

Pemerintahan ini sudah berjalan hampir 2 tahun, adakah upaya publik memperdebatkan langkah-langkah Pemerintah terkait tiga hal ini di medsos maupun media konvensional ? 

Strategi Pemerintah Dalam Penanganan Energi, Pangan dan Air 

Dari sisi pangan, strategi pangan masih  belum jelas. Pertama, dari sisi kebijakan, belum ada sinkronisasi kebijakan antara Kementrian/Lembaga. Sebagai contoh, kebijakan tentang pengembangan sawah/padi. Bagaimana kaitannya dengan strategi kebijakan lahan dan  pencetakan sawah/kebun di Kementerian Agraria/BadanPertanahan Nasional serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan?

Kedua,  bagaimana kaitan kebijakan pangan di Kementerian Pertanian dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat? Apakah pencetakan sawah baru lokasinya berdekatan dengan lokasi waduk yang ada atau lokasi pembangunan waduk baru?
 
Ketiga, terkait dengan pengembangan dan penyediaan bibit, apakah kebijakan di Kementerian Pertanian inline dengan kebijakan pengadaan pupuk di Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, terkait dengan rantai distribusi pupuk dan bibit unggul yang padat makelar atau rent seekers? Tanpa simplifikasi suplai pupuk dan bibit, jangan diharapkan ketersediaan pangan akan terpenuhi.

Demikian pula dari sisi energi menga  lami kendala yang sama. Sampai hari ini masih belum jelas cetak biru (blue print) energi Pemerintah. Sumber energi primer di Indonesia masih mengandalkan pada migas, sisanya pada batubara, dan energi baru terbarukan (EBT) seperti angin dan bio energi. Produksi minyak Indonesia hanya sebesar rata-rata 840 ribu barel/hari dan produksi gas bumi sekitar 8.201 mmbtu/hari, sementara kebutuhan migas domestik lebih dari 2 x produksi. Jadi bisa dibayangkan besarnya devisa yang harus dibelanjakan untuk mengimpor migas.

Sementara untuk panas bumi masih menemui kendala cukup pelik terkait dengan fungsi tanah saat ini, misalnya terkait dengan kawasan hutan lindung atau kawasan tanah adat dan sebagainya. Kebijakan Pemerintah belum bisa secara tuntas memayungi sumber daya alam ini untuk di eksplorasi lebih lanjut, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Selandia Baru di Rotorua.

Sedangkan untuk bio diesel, kebijakan Pemerintah lumayan maju. Melalui Peraturan Presiden No. 24 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No.61/ 2015 Tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, sebagian crude palm oil (CPO) harus dialokasikan sebagai bio diesel untuk menutup defisit bio diesel. Melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), tahun 2016 target  20% (P 20) komponen bio diesel ada dalam setiap liter solar yang beredar di Indonesia.

Terkait dengan cetak biru air minum, baik untuk sumber daya air (SDA) maupun sistem penyediaan air minum (SPAM), Pemerintah masih belum jelas. Paska dibatalkannya UU No. 7 Tahun 2004 Tentang SDA oleh Mahkamah Konstitusi tahun lalu, Pemerintah (Kementrian PUPR) telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 121 Tahun 2015 Tentang SDA dan PP No. 122 Tahun 2015 Tentang SPAM. 

Pada PP No. 121/2015 tidak ada persoalan serius, namun pada PP No. 122/2015, muncul persoalan serius, yaitu tidak diperkenankannya investor asing melakukan investasi atau berbisnis di SPAM, kecuali hanya di hilir (pipa transmisi dari unit pengolahan air ke pelanggan). Jika investor asing dilarang berinvestasi pada SPAM, apakah Pemerintah sanggup membangun infrastruktur air minum secara masif ? Untuk wilayah DKI Jakarta saja dibutuhkan biaya sekitar Rp 20 Triliun untuk pembangunan jaringan pipa dari sumber air hingga ke pelanggan.

Nah, ternyata memang Pemerintah belum serius menata dan merencanakan kedepan 3 komoditi terpenting bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Tanpa pangan, energi dan air yang cukup; bangsa ini bisa perang saudara berebut mendapatkannya.

Langkah yang Harus Segera Diambil Pemerintah 

Dari sisa waktu sekitar 2 tahun lagi (karena satu tahun terakhir Pemerintah pasti akan disibukan dengan kegiatan politik terkait Pemilu dan Pilpres 2019), pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Jokowi harus segera menangani persoalan ketiga komoditi tersebut tanpa campur tangan para rentenir atau makelar.

Untuk itu Pemerintah perlu segera membuat peraturan perundang undangan yang dibutuhkan supaya ketika cetak biru  energi, pangan dan air selesai bisa langsung diimplementasikan. Kalau ada yang kurang bisa dilengkapi dengan menerbitkan Peraturan Menteri saja.

Untuk energi, pastikan penggunaan EBT menjadi target utama dan untuk mengurangi tekanan dunia terhadap sawit Indonesia, sementara hentikan perluasan lahan tetapi lakukan intensifikasi supaya bisa didapat hasil yang berlipat tanpa harus merusak hutan. Kemudian kembangkan bio energi baru selain dari sawit, misalnya kemiri sunan, gas metan dari sampah dan kotoran hewan dan sebagainya. 

Untuk masalah pangan pastikan pengembangan tanaman pangan lokasinya  disesuaikan dengan sifat tananam dan keterjangkauan bibit unggul, pupuk, rantai distribusi dan irigasi. Jangan kembangkan tanaman pangan di lokasi antah berantah yang supra strukturnya minim.

Untuk masalah air bersih, pastikan swasta (lokal dan asing) diberi kesempatan membangun infrastruktur air bersih karena investasinya sangat besar, kecuali negara mempunyai anggaran yang cukup. Melarang investor asing berinvestasi di sektor non Daftar Negatif Investasi (DNI) melanggar UU No. 25 Tahun 2007. Target MDG 100% publik mempunyai akses ke air bersih pada tahun 2020 harus menjadi target serius dari Pemerintah.  . 
(nwk/nwk)
detik.com

Minggu, April 10

First Asia Capital: Saham Tambang dan Energi Berpeluang Naik



Jakarta -IHSG akhir pekan kemarin bergerak di teritori negatif sepanjang perdagangan. Koreksi terutama melanda saham perbankan dan aneka industri. Sedangkan aksi beli selektif mewarnai saham pertambangan dan jasa konstruksi. IHSG ditutup koreksi 20,581 poin (0,42%) di 4.846,704. Koreksi IHSG akhir pekan lalu terimbas faktor eksternal setelah pasar saham global mengkhawatirkan perlambatan ekonomi global menyusul isyarat IMF yang akan menurunkan kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Namun selama sepekan IHSG berhasil menguat tipis 0,07%, bertahan dari koreksi pasar saham global dan emerging market.

Pada saat yang sama Indeks The MSCI Emerging Market koreksi 1,1%. Saham sektoral yang bullish pekan lalu adalah pertambangan dan infrastruktur. Sentimen pasar sepekan kemarin digerakkan oleh rally harga minyak mentah dan komoditas tambang lainnya dan sentimen individual emiten terkait antisipasi pasar terhadap kinerja 1Q15 dan pembagian dividen.

Harga minyak mentah akhir pekan kemarin di AS naik 6,44% di US$ 39,72/barel dan selama sepekan naik 8% menyusul spekulasi pasar menjelang pertemuan Doha 17 April mendatang, di mana negara produsen minyak OPEC dan Rusia berpeluang mencapai kesepakatan untuk menahan produksi minyaknya.

Sementara itu bursa global akhir pekan lalu berhasil rebound setelah hari sebelumnya koreksi. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing menguat 0,2% dan 0,3% tutup di 17.576,96 dan 2.047,60. Penguatan di Wall Street terutama ditopang kenaikan saham sektor energi merespon kenaikan harga minyak mentah.

Melanjutkan perdagangan awal pekan ini, pelaku pasar berpeluang mengakumulasi kembali saham sektoral setelah risiko pasar saham global rendah akhir pekan lalu. Penguatan harga minyak mentah akan berpeluang mengangkat kembali saham sektoral berbasiskan komoditas tambang dan energi. Sejumlah saham unggulan yang terkoreksi pekan lalu berpeluang rebound pada perdagangan awal pekan ini. IHSG diperkirakan bergerak di kisaran support 4.820 hingga resisten di 4.900 berpeluang rebound.                          

S1 4820  S2 4785  R1 4870  R2 4900

Saham Pilihan
  • ASII 7100-7400 Buy, SL 7000
  • UNTR 15400-15900 Buy, SL 14900
  • ADHI 2730-2840 Buy, SL 2650
  • WIKA 2640-2720 Buy, SL 2600
  • PTBA 6450-6900 Buy, SL 6100
  • ELSA 356-384 TB, SL 340
  • ADRO 690-750 TB, SL 650
(wdl/wdl)

Rabu, Maret 30

Biaya Produksi Pembangkit Berbahan Bakar Gas Lebih Murah dari BBM

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) mendapatkan manfaat dari penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Manfaat yang didapat antara lain berupa penghematan.

Manajer Senior Public Relations PLN Agung Murdifi mengatakan, biaya produksi listrik dari pembangkit yang menggunakan sumber energi Bahan Bakar Gas (BBG) lebih‎ murah ketimbang Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Pada kondisi harga minyak di atas US$ 45  per barel, gas lebih murah," kata Agung saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Agung mencontohkan skema harga penggunaan gas. Saat harga minyak US$ 100 per barel maka biaya operasi pemakaian energi gas sekitar Rp 1.500 per kilo Watt hour (kWh). Sedangkan biaya pembangkit listrik menggunakan BBM sekitar Rp 2.700 per kWh‎.

Selain lebih murah, lanjut Agung, menggunakan BBG untuk pembangkit jauh lebih bersih. Sehingga mesin pembangkit tidak cepat kotor‎ dan menghemat biaya pemeliharaan dan operasi pembangkit.
"Gas lebih bersih, sehingga mesin enggakcepat kotor, sehingga pemeliharaan lebih jarang jadi hemat di operation maintenance," tutur ‎Agung.

Sebagai perusahaan pemasok gas, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) siap mengalirkan gas ke pembangkit listrik, khususnya pada program kelistrikan 35 Ribu Mega Watt (MW).

PGN menyiapkan infrastruktur gas bumi yakni fasilitas Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Lampung untuk mendukung kehandalan pasokan gas bumi di wilayah Barat dan wilayah Tengah Indonesia, yang salah satu konsumen adalah sektor kelistrikan.

Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup‎ mengatakan, selain untuk memenuhi kebutuhan gas bumi bagi pelanggan eksisting seperti industri, komersial, Usaha Kecil Menengah (UKM) dan rumah tangga, keberadaan FSRU Lampung juga untuk mendukung sektor kelistrikan‎ 

memasok bahan bakar gas ke pembangkit.
Bahkan FSRU tersebut siap memasok gas ke pembangkit yang masuk dalam program kelistrikan 35 ribu Mega Watt (MW).

“FSRU Lampung siap untuk mendukung proyek listrik 35.000 megawatt (MW) yang digagas Presiden Joko Widodo, utamanya yang berada di Jawa bagian Barat dan Sumatera Bagian 
Selatan,” ungkap Heri.

Heri Yusup menerangkan,  FSRU Lampung berperan sebagai terminal penerima gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dan memiliki fasilitas regasifikasi (mengubah gas bumi 
cair ke dalam bentuk cair ke gas).

Untuk memperkuat pasokan gas‎, PGN juga mengembangkan kapal mini LNG ( Mini LNG Sea Transportation) yang akan membawa LNG dari FSRU Lampung ke pembangkit listrik yang berada di berbagai pulau antara lain di sekitar Sumatera, Kalimantan dan wilayah lainnya.

Heri mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian ESDM, dalam proyek listrik 35 ribu MW, sekitar 13.432 MW pembangkit listrik akan menggunakan bahan bakar gas. Total gas yang diperlukan sekitar 1.009 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Pembangkit tersebut diantaranya, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di proyek listrik 35 ribu MW, antara lain PLTGU Jawa1 1.600 MW, PLTGU Jawa-Bali 3 Peaker 500 MW, PLTGU Muara Karang (peaker) 500 MW, PLTGU Jawa 2 (Tanjung Priok) 800 MW, PLTMG Belitung V 30 MW, PLTMG Bangka Peaker 100 MW, PLTMG Tanjung Pinang II 30 MW, PLTMG Bengkalis 18 MW, PLMG MPP Kaltim 30 MW, PLTGU Sulsel Peaker 450 MW dan lainnya. (Pew/Nrm)



Harga BBM Turun Lagi di Awal April

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengubah kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar.
Harga BBM tersebut akan diubah setiap beberapa bulan mengikuti kondisi yang ada. Mulai dari penurunan harga minyak dunia, nilai kurs rupiah, ekonomi nasional dan lainnya.
Seperti di awal April ini, pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga BBM jenis Premium dan Solar sebesar Rp 500 per liter, dan akan berlaku mulai 1 April 2016.

Penurunan harga BBM ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Istana Kepresidenan, Rabu (30/3/2016). Setelah Presiden Jokowi menggelar rapat terbatas.
Sudirman menjelaskan, penurunan tersebut disesuaikan dengan Undang-undang yang berlaku dan juga untuk merefleksikan penurunan harga minyak dunia.

"Dalam regulasi memang meminta pemerintah untuk tidak melepas harga BBM sepenuhnya ke pasar. Maka tugas dari pemerintah untuk menjaga sehingga tercipta kestabilan, naik atau turun tidak tinggi," jelas Sudirman.

Berdasarkan landasan tersebut, pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga Premium dari Rp 6.950 per liter menjadi Rp 6.450 ribu per liter. Sedangkan untuk Solar turun menjadi Rp 5.150 per liter dari sebelumnya Rp 5.650 per liter. "Untuk minyak tanah tetap," tambah Sudirman.

Pemerintah akan tetap konsisten untuk mengevaluasi harga BBM setiap 3 bulan sekali. "Harga baru ini sudah mempertimbangkan harga pada Juli yang sudah memasuki Lebaran," tutur Sudirman.

Bertahan Hingga 6 Bulan

Menteri ESDM Sudirman Said‎ mengumumkan harga baru BBM untuk jenis Premium dan Solar. Masing-masing turun Rp 500, dengan rincian Premium menjadi Rp 6.450 per liter dan Solar menjadi Rp 5.150 per liter.

Dia menjelaskan harga baru ini ditetapkan sudah mempertimbangkan berbagai‎ kondisi ekonomi selama tiga bulan ke depan termasuk perayaan Lebaran yang akan jatuh pada Juni-Juli.

"Karena itu mudah-mudahan sampai enam bulan ke depan harga ini bisa kita pertahankan, sehingga masyarakat bisa menyusun rencana dengan baik dan juga tidak terganggu naik turunnya harga BBM yang telalu berfluktuasi," kata Sudirman Said.

Harga baru BBM ini akan berlaku mulai 1 April 2016 pukul 00.00 WIB. Harga BBM menjadi salah satu instrumen dasar untuk menentukan daya beli masyarakat‎. Jadi secara langsung akan mempengaruhi angka inflasi setiap bulan.

Sementara Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menegaskan, pihaknya siap menjaga harga BBM hingga beberapa waktu ke depan. "Pertamina siap mempertahankan harga ini sampai dengan September agar tidak ada gejolak yang berarti dalam kurun waktu enam bulan ini," kata Dwi.

Dia mengaku selama satu bulan ini pihaknya mengaku telah menurunkan dua kali harga BBM seiring dengan menurunnya harga minyak dunia. Sayangnya Dwi enggan mengungkapkan berapa selisih harga jual Premium dan Solar yang baru tersebut dengan harga pasar sebenarnya
Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar ikut berdampak ke sektor lain.
Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan menyatakan tarif angkutan umum akan ikut turun. "Transportasi umum akan kita kirim surat ke kepala daerah. Penurunannya 3 persen," kata Jonan.

Penurunan tarif berlaku pada hampir semua angkutan umum. Angkutan itu meliputi penerbangan, kapal laut, kereta api, angkutan darat antar kota, serta angkutan antar provinsi dan antar kota.  "Nanti detailnya akan disampaikan lewat surat edaran Menteri Perhubungan," tutur dia.

Namun, mantan Dirut KAI ini juga menyampaikan tidak semua angkutan umum akan serta merta menuruti perubahan tarif tersebut. Hal ini disebabkan adanya sistem beli tiket dari jauh-jauh hari.

"Penurunan tarif transportasi ini pada umumnya berlaku sejak penurunan BBM, tapi tidak bisa semua moda serta merata. Kalau pakai sistem tiket ya tidak bisa. Tapi prinsipnya pasti turun," tandas Jonan.
Hanya Harga BBM Malaysia Lebih Murah dari RI

Dengan penurunan harga Premium menjadi Rp‎ 6.450 dari sebelumnya Rp 6.950 dan Solar menjadi Rp 5.150 dari sebelumnya Rp 5.650, membuat harga BBM di Indonesia tercatat sebagai yang termurah kedua di ASEAN. Harga BBM termurah di ASEAN masih dipegang Malaysia dengan Petronas sebagai penyedianya.

"‎Banyak persepsi harga BBM kita termasuk yang mahal, kenyataannya, misalnya di Asean, harga kita dibanding negara lain, yang lebih murah hanya Malaysia. Sementara untuk Vietnam, Filipina, Thailand dan negara lainnya itu lebih mahal. Ini untuk Solar," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Tak hanya jenis Solar, Pramono juga menegaskan untuk jenis Premium juga hanya kalah murah dari BBM yang diproduksi Petronas.

Pramono mengingatkan untuk tetap dijaga kestabilannya karena peran BBM ini sangat penting terhadap daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Pramono menuturkan, jika harga BBM naik, maka akan menimbulkan pengaruh yang signifikan terhadap angka Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan inflasi melonjak drastis.

"BBM yang murah ini menjadi fundamental dasar, agar inflasi rendah, harga terjangkau, apalagi segera menghadapi lebaran, tentu untuk menjaga ini perlu langkah yang diatur pemerintah untuk harga BBM," ujar dia.

Dengan harga BBM termasuk yang termurah di ASEAN ini, diharapkan bisa diikuti dengan tarif transportasi yang juga lebih murah.
Harga Pertamax Cs Turun Lebih Dulu 

Sebelum pemerintah mengumumkan penurunan harga BBM, PT Pertamina (Persero) lebih dulu  menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Umum non subsidi jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex dan Pertalite masing-masing sebesar Rp 200 per liter. Penurunan harga BBM non subsidi ini merefleksi penurunan harga minyak mentah dunia.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, pada pertengahan Maret lalu Pertamina telah menurunkan harga BBM non subsidi sebesar Rp 200 per liter. Terhitung 30 Maret 2016 pukul 00.00 WIB, Pertamina kembali menurunkan harga Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex dan Pertalite sebesar masing-masing Rp 200 per liter.‎

"Jadi, pada bulan ini Pertamina telah menurunkan harga BBM umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex, dan Pertalite sebesar Rp 400 per liter. Dengan penurunan harga tersebut diharapkan masyarakat dapat menikmati berkendara dengan BBM yang memiliki kualitas sesuai mesin kendaraan,"‎ kata Wianda.

Menurut Wianda, penetapan BBM Umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex dan Pertalite merupakan kebijakan korporasi yang ditinjau secara berkala. untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi, Pertamina akan secara ketat memantau ketersediaan stok BBM Umum tersebut di tingkat SPBU.

Pertamina juga akan terus mengupayakan untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat dan memastikan tidak akan ada kekosongan produk di SPBU.

"Dengan harga yang turun, konsumsi biasanya meningkat dan untuk memastikan masyarakat dapat terlayani Pertamina telah memberikan instruksi ke seluruh SPBU untuk menyiapkan stok dengan cukup," ungkap dia.

Adapun, penurunan harga di Jakarta meliputi Pertamax yang semula Rp 7.750 per liter turun menjadi Rp 7.550 per liter, dan Pertamax Plus turun dari Rp 8.650 per liter menjadi Rp 8.450 per liter.

Penurunan harga di Jakarta, juga terjadi pada produk diesel berkualitas tinggi, Pertamina Dex dari semula Rp 8.600 per liter menjadi Rp 8.400 per liter.

Untuk BBM Umum jenis Pertalite turun dari harga Rp 7.300 per liter, menjadi Rp 7.100 per liter. Solar atau Biosolar non subsidi mengalami penurunan dari Rp 7.150 liter menjadi Rp 6.950 per liter."Besaran penurunan Rp 200 per liter berlaku sama untuk seluruh daerah," tutup Wianda.(Nrm/Ahm)

Minggu, Februari 28

Menteri ESDM: Dana Ketahanan Energi Tak Akan Bebani Rakyat

Jakarta - Pemerintah masih terus menggodok ketentuan dan mekanisme dari pungutan Dana Ketahanan Energi. Nantinya mekanisme tersebut akan dibahas bersama dengan Komisi VII DPR RI sebelum secara resmi diberlakukan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, sebenarnya saat ini hampir semua pihak telah sepakat DKE ini harus ada dan dilaksanakan. Dana tersebut akan diambil dari eksplorasi energi fosil untuk pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT).

"Jadi DKE itu, nomor 1 harus dibentuk. Sumbernya dari pengurasan energi fosil. Itu artinya bisa dari batubara, minyak," ujarnya di Jakarta, Sabtu (27/2/2016).

Menurut Sudirman, saat ini bersama dengan DPR masih mencari mekanisme pemungutan yang cocok. Namun dia memastikan pungutan DKE ini tidak akan membebani masyarakat, tetapi dilakukan dengan mekanisme lain seperti memungut dari perusahaan-perusahaan tambang yang melakukan eksplorasi energi fosil di Indonesia.

Pertamina Resmikan SPBU COCO Pertama di Manado

Manado - Pertamina kembali menambah SPBU yang dimiliki dan dikelola sendiri (Company Own Company Operate) di Manado. Pertamina menugaskan anak perusahaannya PT Pertamina Retail untuk mengelola SPBU COCO 71.951.03 yang terletak di Jalan Boulevard, Manado itu.

GM Pertamina MOR VII Sulawesi, Tengku Badarsyah menuturkan, dengan bertambahnya SPBU COCO di wilayah timur Indonesia, Pertamina berharap standar pelayanan SPBU semakin merata di seluruh Indonesia
"SPBU COCO dapat menjadi standar pelayanan bagi SPBU Pertamina lain yg dikelola oleh pengusaha (franchise)," kata dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/2/2016).

Saat ini di antara lebih dari 5.000 SPBU Pertamina yang ada di Indonesia, 129 di antaranya adalah SPBU COCO dan mayoritas terletak di Indonesia bagian Barat terutama Pulau Jawa dan Sumatera.
SPBU COCO Manado menjadi SPBU KE 16 di wilayah Timur Indonesia yang tersebar 1 SPBU di Bali, 3 SPBU di Kalimantan Barat (Kalbar), 5 SPBU Kalimantan Tengah (Kalteng), 3 SPBU di Kalimantan Selatan (Kalsel), 2 SPBU di Sulawesi dan 1 SPBU di Papua.
Peresmian SPBU COCO Manado ditandai dengan pengisian BBM secara simbolis oleh Tengku Badarsyah bersama Asisten II Kota Manado, Rum Usulu Asisten II Kota Manado yang mewakili Plt. Walikota Manado dan Dandim 1309/Manado Letkol Inf Johanis Toar Piyoh.

Di Manado, SPBU ini merupakan SPBU COCO pertama yang akan beroperasi. SPBU ini akan menjadi standar bagi SPBU Pertamina lainnya di Wilayah Suluttenggo (Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo) yang berjumlah 130. Di antaranya, 50 SPBU yang terdapat di Sulawesi Utara. Khusus Kota Manado, terdapat 16 SPBU.

"Kawasan Boulevard adalah salah satu titik strategis di kota Manado. Fasilitas yang lengkap di SPBU COCO ini diharapkan memberikan konsumen kenyamanan dalam memenuhi berbagai kebutuhannya." lanjut Tengku.

SPBU COCO No.71.951.03 menyediakan bahan bakar Premium, Pertamax dan Bio Solar. Dalam waktu dekat SPBU ini jg akan menyediakan produk Pertalite.
Di samping menjual produk BBM yang lengkap, SPBU juga menyediakan fasilitas pengisian angin, air. Menyusul, saat ini juga sedang dipersiapkan ATM center, Olimart serta convinient store Bringht Store. (Ndw/Gdn)

Pertamina resmikan SPBU COCO pertama di Manado (Foto: Humas Pertamina)

Dana Ketahanan Energi untuk Terangi Wilayah yang Gelap Gulita

Jakarta - Pemerintah telah memutuskan untuk menunda pelaksanaan program Dana Ketahanan Energi (DKE). Meski demikian, pemerintah saat ini tengah menggodok ketentuan dan mekanisme dari pungutan dana tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, jika sudah berjalan nantinya, penggunaan DKE akan diprioritaskan untuk membangun proyek penyediaan energi baru dan terbarukan (EBT).

Sebagai contoh, dana tersebut bisa digunakan untuk membangun EBT untuk mendorong peningkatan rasio elektrifikasi di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau jaringan listrik.

"Penggunaannya prioritas bagaimana melistriki desa-desa yang gelap, yang tidak bisa dijangkau oleh jaringan nasional, itu hanya bisa dilistriki oleh EBT," ujarnya di Jakarta, Sabtu (27/2/2016).

Pesan 8 Tanker, Pertamina Tantang Industri Galangan Kapal RI

Jakarta - PT Pertamina (Persero) mendukung sektor kemaritiman Indonesia dengan berkomitmen memberdayakan industri galangan kapal nasional. Salah satu langkah nyata yang dilakukan oleh Pertamina adalah memesan delapan kapal tanker dari galangan dalam negeri.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, Pertamina bersama mitra galangan dalam negeri saat ini sedang dalam proses penuntasan delapan proyek kapal tanker tipe GP dengan bobot mati 17.500 DWT. 

Proyek dengan nilai total sekitar US$200 juta tersebut ditargetkan tuntas pada tahun ini. "Pertamina selalu memberikan tantangan kepada industri dalam negeri baik dalam hal besaran kapal maupun standard kapal," kata Wianda, di Jakarta, Minggu (28/2/2016).

Galangan kapal nasional harus bisa membangun kapal berstandar Internasional yang dapat diterima berlayar ke negara manapun di dunia. Kapal tanker Pertamina juga dituntut untuk ramah lingkungan dan tingkat keamanan tinggi dan taat terhadap ketentuan-ketentuan Internasional lainnya.

Kedelapan proyek tersebut meliputi MTParigi dan MTPattimura oleh PTAngrek HitamShipyard, MTPanderman, MTPapandayan, dan MT Putri oleh PT Daya Radar Utama, serta MTPasaman, MT Panjang, dan MTPangrango oleh PT MultiOceanShipyard.