Jakarta - Perwakilan Timor Leste berkunjung ke kantor pusat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Mereka hendak membangun sistem peringatan dini tsunami di negaranya. Indonesia siap membantu.
Acara digelar di kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (19/4) kemarin. Sebastiao Dasilva, Direktur Nasional Meteorologi dan Geofisika/Ketua Delegasi Timor Leste, mengatakan kunjungannya untuk membangun kerjasama dalam bidang meteorologi dan geofisika. Hal ini sesuai dengan penandatanganan kerjasama yang terjalin antara Indonesia dan Timor Leste.
Taito Nakalevu, Perwakilan Secretariat of Pacific Community-SPC), menambahkan sistem peringatan dini tsunami itu berupa tiga buah sirine dan beberapa unit peralatan WRS (warning receiver system serta sistem monitoring gempa bumi dan pengolahannya didanai oleh Uni Eropa.
Merespons hal ini, Deputi Bidang Geofisika BMKG menjelaskan, Timor Leste merencanakan membangun sirine tsunami karena sudah melihat Indonesia melakukan hal serupa. Selain mendapatkan informasi tentang sistem jaringan sirine BMKG delegasi Timor Leste juga akan mengunjungi lokasi sirine BMKG yang dipasang di wilayah pantai barat Pandeglang.
"Selain itu BMKG juga menawarkan kerjasama untuk monitor aktivitas kegempaan di negara tetangga tersebut. BMKG menyanggupi untuk menyumbangkan satu sistem analisis gempa bumi. Sistem analisis ini dikembangkan sendiri oleh BMKG dan diberi nama JISView," kata Masturyono dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (20/4/2016).
Dengan JISView, Timor Leste akan mampu memonitor kejadian gempa bumi yang terjadi di wilayahnya dengan menggunakan sensor gempa bumi yang telah dioperasikan oleh BMKG.
Moch. Riyadi, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG menambahkan, kegiatan ini sebagai implementasi dari MOU antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Timor Leste. Dipilihnya Indonesia sebagai program percontohan oleh Timor Leste karena Indonesia dianggap sudah mampu dalam menangani masalah informasi dan peringatan dini tsunami sehingga Indonesia yang sebelumnya dalam pendirian sistem peringatan dini tsunami banyak dibantu oleh negara lain, seperti Jerman, China, Jepang dan Amerika.
Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG memberikan analisis soal potensi gempa bumi dan tsunami di Timor Leste. Sumber gempa bumi di zona tersebut berasal dari tiga generator gempa bumi, yaitu sistem sesar aktif di Laut Sawu, sesar naik Wetar Thrust, dan sistem subduksi Lempeng Australia di selatan Timor Leste.
"Berdasarkan catatan sejarah kegempaan, pada tahun 1908 pernah terjadi gempabumi kuat di Laut Timor. Sebuah kapal yang sedang berlayar melalui selat yang terletak antara Pulau Timor dan Pulau Alor merasakan gelombang pasang yang tiba-tiba menguat sehingga kapal tersebut terjebak pada pusaran dan tenggelam. Daerah Atapupu juga terjadi guncangan kuat dan merusak yang disertai gelombang tsunami," papar Daryono.
"Tahun 1995 juga terjadi tsunami di pantai utara Timor Leste akibat gempabumi berkekuatan M 6,9 yang menewaskan 11 orang dan 19 orang luka-luka. Tsunami ini merusak banyak bangunan rumah di kota Dili dan sekitarnya," sambungnya.
(mad/tor)
detik.com







0 comments:
Posting Komentar