, BOGOR - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah
memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2015 akan berada di level 4,67
persen.
Dia
yakin angka itu akan melambung jauh pada semester kedua mulai September.
(Baca juga Jokowi Janjikan Koordinasi APBN dan APBD untuk
Revitalisasi Pasar)
"Mulai
agak meroket September, Oktober. Nah pas November itu bisa begini (tangan
menunjuk ke langit)," kata Jokowi di Istana Bogor, Rabu (5/8/2015).
Dia
menganggap hingga kuartal kedua ini, pertumbuhan ekonomi lambat karena serapan
anggaran baik di tingkat pusat dan daerah yang belum tersalurkan.
Selain
itu, ada juga faktor eksternal yang membuat negara-negara lain termasuk
Indonesia mengalami perlambatan.
Namun,
memasuki semester kedua, Jokowi yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan
membaik.
Saat
ditanyakan apakah pemerintah optimis hingga akhir tahun ini pertumbuhan bisa
mencapai lebih dari 5 persen, Jokowi belum bisa memastikan.
Hal ini karena
pertumbuhan ekonomi dipengaruhi banyak factor
.
"Banyak hal yang
pengaruhi. Bukan hanya masalah serapan anggaran saja, tapi juga spending dari
BUMN, belanja dari swasta. Itu pengaruh sekali. Jadi kalau bertanya seperti itu
jawabannya pada akhir Desember," kata Jokowi.
Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan-II 2015 mencapai 4,67 persen secara
tahunan.
Angka itu lebih rendah
jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan-I 2015 yakni 4,72 persen dan
triwulan II 2014 yakni 5,03 persen.
BPS menyebutkan
pertumbuhan di triwulan II melambat karena dipicu masih rendahnya harga
berbagai komoditas, baik migas mau pun non-migas.
Misalnya, harga
gandum, harga beras, kedelai, kopi, ikan, dan gula cenderung menurun pada
triwulan kedua.
Harga batu bara, gas,
biji besi, uranium, dan timah juga mengalami penurunan secara global.
Pertumbuhan
ekonomi negara mitra dagang Indonesia cenderung stagnan, bahkan melemah,
seperti Amerika Serikat yang melemah dari 2,9 persen pada triwulan-I 2015
menjadi 2,3 persen pada triwulan-II 2015, serta Tiongkok yang stagnan pada
posisi pertumbuhan 7 persen.
Selain
itu, ketidakpastian kondisi pasar keuangan terkait dengan ketidakpastian
kenaikan Fed Fund Rate juga menjadi penyebab lemahnya ekonomi.







0 comments:
Posting Komentar